Monday, November 2, 2015

The Difference


Kadang hal terberat dalam hidup adalah memilih untuk pergi atau bertahan. Contohnya dalam pekerjaan, beberapa orang mungkin baru dapat memilih setelah melihat tinggi jabatannya, besar gajnya, atau tingkat kesulitan pekerjaannya. Jika aku boleh memilih, maka sederhananya aku ingin effort yang kuberikan untuk pekerjaanku sesuai dengan apa yang kudapatkan. Apabila tidak seimbang maka aku tidak akan melanjutkannya. Aku akan pergi. Lucunya, memilih cinta juga begitu.  Dalam cinta, beberapa orang mungkin baru dapat memilih setelah melihat jenjang kakinya, besar dada nya, atau tingkat kesulitan menaklukan hatinya. Aku pun ingin effort yang kuberikan untuk cintaku sesuai dengan apa yang kudapatkan. Apabila tidak seimbang maka aku akan berhenti melakukannya. Aku akan pergi. 

Terlihat sama ya?

Padahal, sebenarnya ada satu hal kecil yang membedakan antara keduanya.

Pekerjaan tidak akan mengecewakanmu. Dengan cinta, logika itu tidak berlaku.

Coba pikirkan. Jika dalam pekerjaan seseorang berusaha dengan sungguh-sungguh, tentu akan mendapat hasil yang sepadan dengan kesungguhannya. Aku punya teman di Jepang sana yang bersekolah dengan sangat rajin sejak bangku SD. Ketika anak-anak lain sedang bermain bola di lapangan, ia akan bermain dengan pensil di tangannya sambil menghitung luas lapangan dalam soal matematika. Ketika kuliah, ia mendapatkan beasiswa hingga lulus S1. Bahkan sebelum lulus S1 ia telah direkrut oleh perusahaan bonafit dan saat bekerja disana gaji nya setiap tahun semakin meningkat. Ia pun mengatakan puas pada dirinya dan akan bertahan di perusahaan tersebut. Ini artinya, jika seseorang berusaha dengan sungguh-sungguh maka ia akan dihargai benar? Effort yang dikeluarkan akan sebanding dengan yang didapatkan. Saya pun yakin sesulit apapun kondisinya, kamu akan di hargai di suatu tempat jika kamu berhasil bekerja dengan baik.

Bedanya dalam kehidupan cinta logika ini menjadi surreal. Terkadang ada saat dimana kita sudah memberikan effort secara maximal kepada orang yang kita cintai, tetapi orang yang kita cintai itu tidak memberikan feedback yang sesuai kepada kita. Lalu timbul konflik dengan hati yang tidak puas. Ketidakpuasan tersebut kemudian mengarahkan salah satu dari pasangan tersebut untuk pergi. Untuk apa bertahan jika hanya salah satu pihak yang berusaha?

Lalu kita terdiam.

Dalam keheningan itu, hati kecil mengambil alih. Ia adalah hal kecil yang ada di dalam jiwa kita, yang membelokkan kita kembali untuk tetap bertahan pada cinta yang tidak sepadan. Untuk mencoba dan terus mencoba bertahan dengan orang yang benar-benar kita cintai. Aku tidak paham mengapa konsep ini begitu lazim dalam kehidupan cinta, yang tidak kenal neraca keseimbangan.

Yah, terkadang hal terberat dalam hidup adalah memilih untuk pergi atau bertahan.

Tetapi jangan biarkan hal itu menghambat dirimu.

No comments:

Post a Comment