Aku sadar, tidak ada berlian yang mampu kuhibahkan sebagai rasa terimakasih untuk tiap lembar kejujuran yang kau serahkan dari dalam brankas
hatimu. Dan tak ada berlian yang bisa kusepuhkan menjadi sempurna kembali dan
kuletakkan pada tempatnya, yaitu hatiku. Yang bisa kuingat dalam ingatan merah
muda dalam tubuh ini adalah dekapan lembut yang telah membebaskan jiwa
perenung kesepian ini, agar ia dapat membentangkan sayap-sayapnya pada dunia.
Sebagai balas budi, kusisipkan namamu di celah doaku.
Tapi, kelayakan menginjak kakiku. Dan kepalanya.
Mungkin satu-satunya momen yang mempersatukan adalah
saat surat wangi honeysuckle hinggap pada kotak surat salah satu dari rumah kami, atau ketika lantai surga menjadi saksinya. Entah dalam dimensi waktu apa
dan latar mana, kuharapkan kami bertemu lagi dalam kebaikan.
Itu saja sudah cukup.
No comments:
Post a Comment