Saturday, November 7, 2009

Sin

You'll never notice
The colour of sin
DAMMIT.

Gadis itu masih berdiam dalam lamunannya, dalam rasio kosong penuh harapan palsu yang disibakkan lewat melodi gemerisik yang menghancurkan keheningan pagi itu. Menyedihkan. Kisah gadis bergolek manis yang ditakdirkan untuk membawa ketidak-damaian pada diri sendiri, hingga tercipta sebuah dosa membumbung tinggi sekali jadi berbasis otak dengan segala kelebihan. Digunakan untuk pilihan yang salah. Hancur.

Sekelebat angin yang menampar wajah sang gadis seolah menjadi tampik dirinya dalam seribu waktu, berkolaborasi dengan pekikan musik yang semakin merusak fungsinya yang mati. Dingin. Sementara dia hening dalam biola tak berdawai yang tenggelam di laut terdalam, meratapi diri sendiri yang tidak seharusnya menjadi terlalu melankolis begini. Ada apa?

Just as the storm clouds

Tidak ada. Kata mereka yang bilang berbohong demi kebaikan itu baik. kapan hm? hanya kumpulan oknum-oknum tolol dengan naluri banci yang mengatakan bohong demi kebaikan. Persetan dengan petuah palsu dari negeri seberang, bisa saja mereka membodohi anak satu itu. Hanya dirinya yang dia percayai, hanya dia yang bisa diandalkan oleh dirinya. Jadi peduli setan dengan jargon lama itu. Dan sebuah kebohongan besar kini harus ditanggung olehnya. Menutupi kebohongan-kebohongan lama yang sudah membusuk namun tidak dapat tercium baunya.

closes in
It's dark

Gemuruh para petani di belahan ujung dunia seolah menyorakkan kemenangan bagi gadis itu. Satu rupiah sama saja dengan nyawa, maka bagi dia adalah satu kebohongan sama saja dengan hidup. Percayalah, menajdi orang baik itu kadang membosankan. Kita memang butuh sedikir tantangan untuk menjalani hidup seberapa gampangpun dunia ini berjalan. Jadi, berhentilah menangis dan gebrak para meja petinggi disana. Ambil sedikit uang dan gunakan sisa harga diri untuk membangkitkan sisi lain dalam dirimu.

Tapi pada kenyataannya,

Elegi ini mematahkan semuanya.

Mati.


No comments:

Post a Comment