Damn. Lagi-lagi itu. Lagi-lagi ini. Ini sudah yang ke-Sembilan kalinya; keterlaluan. Langit biru-pun kini terasa suram. Matahari yang panas-pun jadi terasa dingin. Jam yang berdetak-pun serasa mati. Mimpi ini gila. Di angan-angan masih terbentuk pertanyaan. Ada apa dengan hidup?
Absurd.
Hidup ini memang mustahil; bagaimana mungkin seonggok daging yang berjalan, bergerak, dan mempunyai nama bisa membuat sesuatu yang bahkan bisa membuat orang lain sedemikian takjub? Gila. Bahkan keajaiban yang bisa dibuat oleh seorang manusia---yang menganggap dirinya normal setelah minum tiga gelas Champagne---bisa melebihi akal manusia; Perhatikan bagaimana Einstein merumuskan teori Relativitas atau tokoh-tokoh besar seperti Beethoven bisa membuat lagu yang begitu hebat sampai mengguncang panggung seni. Itu semua mustahil 'kan? Tapi kemustahilan itu dilakukan oleh manusia. Biasa.
Kadang aku protes, "Kenapa aku tidak bisa jadi mereka?" atau lebih tepatnya "mengapa engkau tidak mengizinkanku menjadi mereka? " hening. Aku terbawa dengan pikiranku akan para pemikir besar itu dan semua filosofinya. Itu membautku takjub. Dan minder. Hidup ini serasa menentangku, sekalipun aku baru saja memperlajari buku The Secrets yang mengatakan bahwa apapun yang kau pikirkan itu akan menarik segala sesuatu di sekitarmu untuk mendekatimu.
Tsk.
Hidup ini teap mengalir seperti biasanya, mungkin aku yang begitu khawatir akan dunia-ku sendiri. Tanah tetap berada di tempatnya, bumi tetap berada di orbitnya, Manusia masih berada di bumi. Dan matahari masih terbit dari timur ke barat. Jadi apa yang kau khawatirkan? sekonyong-konyong tubuhku melemas. Menyadari betapa konyolnya aku. Mengkhawatirkan sesuatu yang masih pada tempatnya. Tapi bagaiaman kalau sesuatu yang absurd terjadi? bagaimana kalau Bumi melenceng dari orbitnya dan tertelan medan matahari? Bagaimana kalau lebih banyak yang menginginkan untuk tinggal di Mars suatu saat nanti? Bagaimana kalau Danau mengering atau es di kutub utara mencair hingga menjadi laut seutuhnya?
Mengerikan.
Bahkan untuk memikirkannya saja sudah takut.
Dan pada akhirnya-pun aku masih pasif disini, meringkuk dibawah naungan kenyataan bahwa aku ini tidak bisa melakukan apa-apa.
No comments:
Post a Comment