Pernahkah kalian ditampar dan makan makanan basi?
Pernahkah kalian menenggelamkan diri di laut demi teman kalian?
Pernahkah kalian membayangkan kalau semua kengerian ini pernah dialami seorang gadis kecil?
Demi Tuhan,
...
Aku pernah.
Aku saat itu setenang ombak di laut, yang menyadari kalau semua yang kujalani ini adalah benar dan memang seharusnya terjadi. Maka ombak akan berjalan menuju pantai, sementara aku berjalan menuju kematian. Ombak berhenti disana bukan? tapi mereka terus menerjang. Dan begitu juga aku, aku hidup dan akan berakhir di kematian tapi aku terus menerjang kehidupan. Tapi tidak selama hidup aku merasa hidup, ada saat dimana aku merasakan sebagai mayat yang hidup. Ya, aku mati tapi aku masih bisa merasakan pipiku yang sakit luar biasa saat tangan-tangan itu menampar wajahku keras. Dan di saat yang sama,
...jiwaku menangis.
Ini adalah ceritaku. Cerita dalam pengakuan seorang gadis cilik yang mengakui bahwa dirinya sudah lelah, bahwa dia telah merasakan sesuatu yang luar biasa yang aku yakin belum pernah dirasakan oleh orang lain yang lahir di tahun yang sama ataupun lebih muda. Dalam ceritaku, semuanya benar-benar terjadi. Dan aku tidak menambahkan atau mengurangi sedikitpun. Cerita ini adalah penggalan hidupku. Dan aku tidak pernah bohong tentangnya.
Tiga hari bersama teman-teman di sebuah pulau yang nampaknya terdengar menyenangkan untuk disinggahi, dalam rangka sebuah ketidakpastian untuk menuju sebuah kepastian yang kupikir akan kudapatkan setelah tiga hari perjuangan yang akan kulewati. Detik penentuan dimana aku tidak pernah membayangkan sebelumnya semuanya akan menjadi begini. Begitu dingin, begitu kasar, begitu sakit. Semua yang ada di benakku dan realita adalah sebuah keterbalikan. Aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Hanya tiga hari memang, namun aku merasa tiga hari itu adalah tiga tahun lamanya. Dan selama itu, dan disitu aku merasa bukan lagi manusia. Bahkan aku lebih rendah dari manusia. Aku mayat. Aku mayat yang hidup.
Pertama, aku dalam sebuah rombongan ombak yang juga menanti-nantikan hari ini. Semua euforia samar yang melilit aku dan yang lainnya saat itu hampir semua sama, aku yakin itu. Senang. Tanpa beban. Dan aku menerka-nerka apa yang akan aku lakukan di pulau itu selama tiga hari penuh. Kami menginap di dekat pantai, kawan! dimana kaubisa rasakan pasir putih di sela-sela jari kakimu mengalir dalam ombak, kaubisa rasakan air garam yang menghanyutkan perasaan, kau bisa rasakan hangatnya matahari saat terbenam seolah-olah kau bisa menyentuhnya. Kupikir saat itu keputusanku benar demi keindahan itu, namun seiring berjalannya waktu aku mulai merasa kalau aku salah, keindahan itu hanya pemanis dari sebuah kengerian tak berdasar.
Itu adalah awal dari sebuah kesalan besar.
Pada awalnya aku pikir semua baik-baik saja, aku pergi dengan perasaan tergugah dan berusaha menikmati perjalanan dengan duduk di kursi sendirian bersama beberapa lagu yang menenangkan hati. Entah berapa lama aku duduk di kursi itu, namun suara mesin yang tiba-tiba menyalak mati membuatku tergelak. Aku membuka mata, dan aku mendengar suara-suara kaki yang melangkah menjauhiku. Beberapa menepuk pundakku untuk membangunkanku, dan akhirnya aku menyadari satu hal : Kami sudah sampai. Aku bisa mendengar ombaknya murka, tapi aku tidak bisa melihatnya. Hanya cahaya di sebuah spot dimana nelayan berlayar disana, dari kejauhan aku meraskan kedamaian luar biasa yang tidak akan kudapatkan di tempat lain.
Setelah aku sampai disana, aku mulai merasakan kejanggalan-kejanggalan. Seperti dibawa dalam dunia tanpa peradaban dimana kau tidak tahu apa yang harus kau lakukan. Muak. Aku merasakan muak saat itu, dan begitu juga dua hari setelahnya. Aku mulai memupuk kebencian mendalam dan berniat untuk mengakhiri semua hubunganku dengan ikatan sialan ini dan memutuskan untuk tidak pernah kembali. Toh kalian tahu, setelah aku mendapat siksaan luar biasa tidak manusiawi seperti ini, aku dan beberapa yang memiliki perasaan yang kurang lebih sama tidak mendapatkan apa yang kami inginkan. Dan topeng-topeng para manusia laknat disana masih teringat jelas dalam benakku. Teriakkannya, aku tidak akan pernah lupa itu.
Jujur, aku sudah lelah.
Kami mayat hidup yang dipermainkan.
Dan ini semua baru permulaan.
Pernahkah kalian menenggelamkan diri di laut demi teman kalian?
Pernahkah kalian membayangkan kalau semua kengerian ini pernah dialami seorang gadis kecil?
Demi Tuhan,
...
Aku pernah.
Aku saat itu setenang ombak di laut, yang menyadari kalau semua yang kujalani ini adalah benar dan memang seharusnya terjadi. Maka ombak akan berjalan menuju pantai, sementara aku berjalan menuju kematian. Ombak berhenti disana bukan? tapi mereka terus menerjang. Dan begitu juga aku, aku hidup dan akan berakhir di kematian tapi aku terus menerjang kehidupan. Tapi tidak selama hidup aku merasa hidup, ada saat dimana aku merasakan sebagai mayat yang hidup. Ya, aku mati tapi aku masih bisa merasakan pipiku yang sakit luar biasa saat tangan-tangan itu menampar wajahku keras. Dan di saat yang sama,
...jiwaku menangis.
Ini adalah ceritaku. Cerita dalam pengakuan seorang gadis cilik yang mengakui bahwa dirinya sudah lelah, bahwa dia telah merasakan sesuatu yang luar biasa yang aku yakin belum pernah dirasakan oleh orang lain yang lahir di tahun yang sama ataupun lebih muda. Dalam ceritaku, semuanya benar-benar terjadi. Dan aku tidak menambahkan atau mengurangi sedikitpun. Cerita ini adalah penggalan hidupku. Dan aku tidak pernah bohong tentangnya.
Tiga hari bersama teman-teman di sebuah pulau yang nampaknya terdengar menyenangkan untuk disinggahi, dalam rangka sebuah ketidakpastian untuk menuju sebuah kepastian yang kupikir akan kudapatkan setelah tiga hari perjuangan yang akan kulewati. Detik penentuan dimana aku tidak pernah membayangkan sebelumnya semuanya akan menjadi begini. Begitu dingin, begitu kasar, begitu sakit. Semua yang ada di benakku dan realita adalah sebuah keterbalikan. Aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Hanya tiga hari memang, namun aku merasa tiga hari itu adalah tiga tahun lamanya. Dan selama itu, dan disitu aku merasa bukan lagi manusia. Bahkan aku lebih rendah dari manusia. Aku mayat. Aku mayat yang hidup.
Pertama, aku dalam sebuah rombongan ombak yang juga menanti-nantikan hari ini. Semua euforia samar yang melilit aku dan yang lainnya saat itu hampir semua sama, aku yakin itu. Senang. Tanpa beban. Dan aku menerka-nerka apa yang akan aku lakukan di pulau itu selama tiga hari penuh. Kami menginap di dekat pantai, kawan! dimana kaubisa rasakan pasir putih di sela-sela jari kakimu mengalir dalam ombak, kaubisa rasakan air garam yang menghanyutkan perasaan, kau bisa rasakan hangatnya matahari saat terbenam seolah-olah kau bisa menyentuhnya. Kupikir saat itu keputusanku benar demi keindahan itu, namun seiring berjalannya waktu aku mulai merasa kalau aku salah, keindahan itu hanya pemanis dari sebuah kengerian tak berdasar.
Itu adalah awal dari sebuah kesalan besar.
Pada awalnya aku pikir semua baik-baik saja, aku pergi dengan perasaan tergugah dan berusaha menikmati perjalanan dengan duduk di kursi sendirian bersama beberapa lagu yang menenangkan hati. Entah berapa lama aku duduk di kursi itu, namun suara mesin yang tiba-tiba menyalak mati membuatku tergelak. Aku membuka mata, dan aku mendengar suara-suara kaki yang melangkah menjauhiku. Beberapa menepuk pundakku untuk membangunkanku, dan akhirnya aku menyadari satu hal : Kami sudah sampai. Aku bisa mendengar ombaknya murka, tapi aku tidak bisa melihatnya. Hanya cahaya di sebuah spot dimana nelayan berlayar disana, dari kejauhan aku meraskan kedamaian luar biasa yang tidak akan kudapatkan di tempat lain.
Setelah aku sampai disana, aku mulai merasakan kejanggalan-kejanggalan. Seperti dibawa dalam dunia tanpa peradaban dimana kau tidak tahu apa yang harus kau lakukan. Muak. Aku merasakan muak saat itu, dan begitu juga dua hari setelahnya. Aku mulai memupuk kebencian mendalam dan berniat untuk mengakhiri semua hubunganku dengan ikatan sialan ini dan memutuskan untuk tidak pernah kembali. Toh kalian tahu, setelah aku mendapat siksaan luar biasa tidak manusiawi seperti ini, aku dan beberapa yang memiliki perasaan yang kurang lebih sama tidak mendapatkan apa yang kami inginkan. Dan topeng-topeng para manusia laknat disana masih teringat jelas dalam benakku. Teriakkannya, aku tidak akan pernah lupa itu.
Jujur, aku sudah lelah.
Kami mayat hidup yang dipermainkan.
Dan ini semua baru permulaan.
No comments:
Post a Comment