Wednesday, September 2, 2009

ngeracau. Gua aja gak ngerti -.-

Demi belalang sembah yang berhasil tinggal di Kutub utara,

---Sedang apa dia disini?

Manusia yang berdiri ditengah keributan massa itu hanya bisa menutup telinga dalam tingkat kewarasan yang cukup. Berbekal rasa ingin, tanpa paksaan, dia melangkah ragu kedalam sebuah ruangan pada barisan pertama di paling ujung dengan wajah yang sangat asing. Beberapa yang mungkin pernah barang sepintas waktu berjalan, tetapi sisanya seperti... betul-betul asing. Dia seperti semut merah diantara semut-semut hitam. Sungguh, dia tidak mengerti. Darimana dia harus memulainya? Haruskah dia bersikap seolah-olah manis? atau perlukah ke-manisan itu terucap sendiri oleh tingkah lakunya? persetan. Semuanya tidak begitu penting, bukan masalah kalau semut-semut hitam itu memilih untuk berinteraksi terhadap sesamanya. Dan sang semut merah hanya perlu berkonsentrasi pada yang mengajaknya ke tengah kawanan semut-semut hitam.

Tidak, itu bukan dia.

Tidak bisa dikatakan seratus persen bahwa semut merah itu sendirian. Teliti, lebih dalam lagi. Maka sang semut merah akan menemukan beberapa bagian yang memiliki warna merah pada semut-semut hitam itu. Tidak terkecuali semut yang paling berwarna hitam. Tidak peduli dialah yang paling besar, yang paling tua. Mereka, sebenarnya juga saling tidak mengenal. Tapi jelas, pengalaman mereka rasanya jauh lebih matang daripada semut merah. Melangkah masuk, satu helaan napas panjang mengiringi gerakan pelan gadis itu yang menimpai sebuah kursi dimana terdapat seonggok semut merah disampingnya. Oh, sejenis. Mungkin mereka bisa jadi teman selamanya? tidak, tidak ada yang tahu.

Dan pada akhirnya-pun semut-semut hitam berubah menjadi semut merah. Dalam sebuahu mimpi tanpa berhujung,

Sebenarnya dia takut.


Akan penolakan.

No comments:

Post a Comment