Monday, July 6, 2009

One day Tragically tragic

Tol Cikampek, Sunday night 09.00 pm

It's gonna be a long long night. *Sigh


2 hari yang terasa amat singkat sehingga gue ngga menynadari kalau ini sudah hari minggu, dan itu berarti ... gue harus pulang. Semuanya sibuk menge-pack barang masih-masing dan semua buah tangan dari hasil merakyat di kota bandung. Ada celengan stroberi, beberapa potong baju, dan yang terpenting adalah beberapa kotak brownies keju Amanda yang siap santap saat gue sampe di Jakarta. Jam 10 malem teng. Sepasang kristal kecoklatan itu melirik pada sang bulan yang terlihat begitu cantik, malam itu. Kepalanya menengadah mengamati setiap pergerakan awan yang terasa begitu cepat (atau mobilnya yang cepat?) dan sesekali mengukur seberapa terang sang bulan malam berdasarkan ketebalan awan yang terus terlewat.

Setir masih bergerak lincah ke kiri dan ke kanan dibawah kendali sang tante, dan kecepatan yang dihasilkan berhasil membuat gue mual. Gue bilang Bandung itu adalah kota yang indah, dimana berterbaran FO yang berkualitas dan makanan yang luarbiasa enak, dan cuma disini dimana lo bisa nyetir mobil dengan kecepatan 60 km per jam di jalur lambat. Hm.. Dan saat semua pikiran-pikiran beserta euforia yang gue bawa memasuki alam tidur gue,

BRUKK

"AAAAAAAAAAA!!!"

damn.

Siapa yang berani ganggu tidur gue!? gue spontan nengok kebelakang, dan--Sebuah bus pariwisata MIOS menabrak mobil gue dengan jumawa. OK, itu fatal. Mengingat yang menabrak bukanlah troli bayi dan gue yang duduk di paling belakang, rawan. Mobil yang isinya cewe semua itu langsung turun, dikomandani oleh mba Shinta yang dengan berani menyuruh sang supir mabok untuk turun. Disini kesialan baru saja dimulai. Gue masih gemeteran, dan situasi semakin tegang. sang supir jahanam dengan brengseknya ngga mau turun. Dan alhasil semuanya berujung di Kantor Polisi. Eyang sama tante gue jagain supir dengan berada di dalam bus, gue dan yang lain jalan duluan (kita berhasil membuat jalan tambah macet, halleluyah) menuju kantor polisi untuk menyelesaikan semuanya.

Disini sang supir berusaha cari mati.

Setelah tante gue nyupir sekenceng-kencengnya menuju kantor polisi, kita menemukan sang bus nggak ada dibelakangnya. Supir berhasil memanipulasi keadaan dengan mengatakan kalau dia nggak tahu jalan (padahal pool-nya di daerah situ) dan berbelok kearah yang salah, kami pun berbelok dari kantor polisi menuju temapt sang supir berhenti. Hening. Gue hanya bisa melihat dari kaca didalam mobil gue yang aman, jauh beberapa meter dari posisi bus yang berhenti di pinggir jalan. Gue terus memandangi isi bus yang terlihat lalu menyadari sesuatu.

"Dimana supirnya?"

Kabur.

Yeah. Sang supir kabur membawa kunci mobilnya. Kami yang awalnya kaget sebenernya udah tenang, karena STNK sang bus sudah berada di tangan tante gue. Kita langsung menuju ke kantor polisi dan menceritakan semua kejadian yang ada disana. 1 jam. Waktu sudah menunujukkan pukul 12 malam dan kami masih berada di kantor polisi Cimahi. Bulan masih berada di tempatnya dan gue masih bisa melihatnya. Saat di kantor polisi gue mendengar cerita dari salah satu pak polisi yang ada disana kalau baru saja juga terjadi kecelakaan motor. Dan kau tahu? baru saja dikabarkan kalau ketiga pengendara motor tewas. Ironis.

Dan gue masih berusaha untuk tidur, sekalipun kedua mata gue ngga bisa sepenuhnya ditutup rapat. Gue amsih berdoa, mengingat semua hal baik yang terjadi dan mengingat bagaimana 3 hari yang lalu gue baru saja lapor diri di SMA 70. Oh, ngga bisa. Semua tetep sama. Dingin. Dan gue masih berlindung didalam mobil yang makin terasa dingin. Tapi wajah-wajah bersahabat yang baru kami kenal (para polisi), berhasil membuat suasana lebih hangat. Ditambah lagi saat salah satu dari pak polisi itu masuk ke dalam mobil dan mengantar kami ke kantor polisi yang lebih besar untuk mengurus semuanya. Gue langsung tenang.

Setelah dari kantor polisi, kami-pun pulang. Melewati jalan tol yang terasa lebih sunyi dan lenggang. Tidak ada bus dibelakag kami lagi, hanya beberapa mobil sedan dan yang lainnya. Semua aman, sampai sesuatu berhasil menghentikan laju mobil kami. Kemacetan kembali terjadi, gue yang masih terjaga kembali waspada. Lewat tengah malam, macet? bah kau bercanda. Yeah. Nggak lama kemudian mobil bisa bergerak cepat lagi,dan saat melewati sebuah mobil Ambulance di kiri jalan,

Sebuah mobil terbakar menyala-nyala didepan mata gue.

Oh, Tuhan berkehendak. Mobil yang melaju cepat tidak bisa menghentikan gue untuk melihat pemandangan lain selain rangka mobil yang hangus masih menyatu dengan api yang semakin liar. Entah apa penyebabnya yang pasti jika kau padukan antara warna api yang menyala dengan warna hitam langit malam, rasanya begitu indah. Gue tidak lagi ketakutan atau merasa takut, hanya sebuah senyuman pahit dan jantung yang serasa ditusuk beribu jarum. Ketika Dia berkehendak, semua bisa terjadi. Dan gue cuma bisa mendoakannya selamat.


Amin.



No comments:

Post a Comment