Sunday, June 28, 2009

SI NOMER SATU.

Entahlah...

Sejak kapan ya rasanya dia merasa begitu bodoh? mungkin karena sudah kelewat lama, sampai-sampai dia sendiri lupa berapa lama rasanya ia sudah dipermainkan dengan begitu oleh manusia itu. Entah karena perangainya yang terlalu baik atau sikapnya yang membuat makhluk berkepala ular itu berani mempermainkannya, yang pasti itu perbuatan yang sangat tidak menyenangkan yang diterima seorang adik dari kakaknya. Ingin rasanya tubuh ini melawan, tapi--oh! apa daya, kelicikannya yang begitu mahir membuatnya lumpuh, terlalu takluk oleh caranya meluluhkan kemarahannya yang bisa sirna begitu saja melihat gelak tawanya yang seolah lupa habis melakukan apa.

Something more terrific than torture. More vital than physical. it's Psychological.

Hahaha. Dia tertawa, lebih tepatnya menertawakan dirinya sendiri yang salahnya terlalu mudah dikalahkan. Seonggok commoners yang mudah digerakkan oleh sebuah remote control bernama mulut milik seorang yang suka memanipulasi sebuah perintah menjadi permintaan tolong. Tsk. Seandainya tidak ada kesamaan darah, tidak ada perbedaan umur, coba dia lebih tua dari kakaknya? Coba dia yang jadi kakak? pasti hal seperti tidak mungkin menimpa dirinya!

Oh sialnya. Sudah jatuh tertimpa tangga. ckck.

Hidup dibalik bayang-bayangnya yang selalu terlihat lebih hebat. Dan dia yang hidup dibawah kekuasaannya dimanapun. Dia selalu kalah, selalu menjadi nomer dua. Selalu menjadi setelah DIA. Padahal dia juga mau jadi yang nomer satu, mau jadi yang dibanggakan milik mereka. Tapi situasi memaksa dia untuk mengalah, membiarkan entitas macam kakaknya itu untuk memimpin yang berada dibawahnya. Dan saat dia suah mulai jenuh dan mengeluh tentang semua yang didapatnya,

Dia hanya bisa bergeming. Mendengar semua keluhannya dan mendengarkan setiap pengakuan yang sebenarnya tidak dia sukai. Pengakuan soal keadaan dirinya yang enggan untuk diatur oleh kedua orang tuanya, pengakuan soal jati diri yang sebenarnya. Dan disaat itu dia hanya bisa berkata tegar, padahal didalam hati dia sudah menangis. Sebenarnya dia tidak sendirian, kok. Dia punya beberapa yang mau mendegarkannya. Seperti adiknya. Seperti temannya. Seperti dia sendiri.

Kau boleh bilang, dia cengeng.
Kau boleh bilang, dia sok tangguh.
Tapi kau tidak boleh bilang, dia sendirian.

Karena satu-satunya yang dimilikinya hanyalah si nomer satu itu.


No comments:

Post a Comment